dua sisi
January 25, 2007 by kerti-yasha
Ada seorang ibu
rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan,
kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak
selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat
menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu
masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor.
Ia bisa meledak Dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu
di atas karpet, Dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal,
dengan 4 anak laki-lak di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan
menyiksanya.
Atas saran
keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan
menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh
perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:
"Ibu harap
tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan." Ibu itu kemudian
menutup matanya.
"Bayangkan
rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa
kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup
mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang
dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir
melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada
suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah
ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi". Seketika muka ibu
itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya
terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada
suami dan anak-anaknya.
"Sekarang
lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana,
artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang Ibu cintai ada
bersama Ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai
tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.
"Sekarang
bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet
kotor masih menjadi masalah buat ibu?" Ibu itu tersenyum dan menggelengkan
kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita
melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat
secara positif". Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal
karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu,
keluarga yang dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas
adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang
mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP
(Neurolinguistic Programming). Teknik yang dipakainya di atas disebut reframing,
yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yg
tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut
pandangnya.
Saya bersyukur:
- Untuk istri
yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia
bersamaku bukan dengan orang lain
- Untuk suami
yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di
rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
- Untuk anak-anak
yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan
tidak jadi anak jalanan
- Untuk Tagihan
Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi
- Untuk sampah dan
kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami
dikelilingi banyak teman
- Untuk pakaian
yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan
- Untuk bunyi
Azan yang keras dan sumbang dari loudspeaker surau terdekat, karena itu artinya
saya masih bisa mendengar
- Untuk rasa
lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu
bekerja keras
- Untuk semua
kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada
kebebasan berpendapat
- Untuk bunyi
alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa
terbangun, masih hidup