queueing: indonesian syle — part 2
January 30, 2007 by kerti-yasha
kemaren ada temen kuliah yang komentar gini: "masak sih universitas segede ini nggak bisa ngatur antrian?" ironis. miris. dengan populasi sekitar 5000 mahasiswa untuk fakultas teknik saja, seharusnya universitas ini mampu menampilkan sistem pembayaran SPP yang cerdik dan efektif, disiplin dan terkendali.
sebenarnya universitas sudah melakukan beberapa langkah untuk mendispersikan kumpulan massa yang tadinya terpusat di kantor registrasi Kinanthi/Barek.
pertama, UGM memperbarui format KTM menjadi SmartCard, yang di dalamnya kelak akan diisi data-data akademis mahasiswa bersangkutan. kalau mau, mahasiswa bahkan bisa memfungsikan KTM-nya sebagai ATM, dengan syarat dia harus membuka rekening di Bank Mandiri.
kedua, UGM memindahkan layanan pembayaran SPP/BOP, yang tadinya bekerja sama dengan Bank BNI, sekarang bekerja sama dengan Bank Mandiri.
ketiga, UGM membuka kemungkinan mahasiswa membayar SPP/BOP melalui transfer dana antar rekening Bank Mandiri, melalui autodebet rekening Bank Mandiri, dan sejumlah kemungkinan lain. hanya saja syaratnya adalah harus ada rekening di Bank Mandiri, walaupun tidak harus atas nama mahasiswa tersebut.
keempat, UGM meminta Bank Mandiri menunjuk beberapa cabang untuk membuka loket pembayaran SPP/BOP. cabang yang ditunjuk setahu saya Cabang UGM/Sekip, Cabang Fisipol, dan Cabang Gejayan. entah kalau ada cabang lain yang saya tidak tahu.
dengan minimal empat langkah ini, UGM dengan gemilang telah mendispersikan konsentrasi massa pada hari-hari pembayaran SPP/BOP, dari yang semula satu titik (Kinanthi/Barek), menjadi empat titik. jalur pembayaran juga diperbanyak dari satu (tunai melalui loket pembayaran SPP/BOP) menjadi beberapa (transfer antar rekening melalui teller atau ATM, autodebet, dll.).
masalahnya, mengapa antrian tetap saja panjang? dan mengapa antrian yang panjang ini semakin tidak bisa diatur? terutama di Kantor Registrasi Kinanthi/Barek. antrian di Bank Mandiri cukup mendingan lah, lebih tertata dan lebih bisa diatur… mengapa oh mengapa?
pertama, mungkin karena pada dasarnya watak manusia indonesia tidak bisa diatur. manusia indonesia setahu saya terkenal sangat tidak bisa diatur ketika antri. bahkan orang tua pun sering nyelonong, mungkin saja dengan anggapan bahwa yang muda harus mengalah pada yang lebih tua. saya tidak setuju. biar dia tua setua gunung merapi dan mantan panglima ABRI, kalau memang dia datang terakhir ya harusnya keluar terakhir. pernah suatu kali saya mau keluar dari lift di Ambarrukma Plaza, lalu ada ibu-ibu tua yang nyelonong memaksa masuk lift, sementara saya masih berusaha keluar (waktu itu liftnya penuh sesak). saya sengaja mendorong si ibu itu keluar dan memaksa keluar, karena memang seharusnya begitu: keluar dulu baru masuk. si ibu spontan berkata: "astaghfirullah". bukankah saya yang seharusnya mengumpat?
kedua, aparat keamanan yang seharusnya bisa mengatur aliran antrian malah duduk-duduk dan tidak peduli, seolah-olah itu bukan tanggung jawab mereka. memang sih, mereka ini petugas keamanan, bukan petugas antrian, tapi bukankah antrian yang kacau juga potensial menimbulkan ancaman keamanan? para "men in blue" ini sekadar membagikan nomor antrian. gayanya menjaga jalur masuk antrian dan memeriksa nomor antrian, tapi nyatanya orang-orang bisa masuk-keluar seenak perut masing-masing. lalu buat apa ada mereka? buat apa ada nomor antrian?
sekali lagi: bravo indonesiaku! bravo UGM-ku!